
Pesawaran,(LE)– Sukacita dan semangat baru tampak menghiasi wajah Ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Perguruan Diniyyah Putri Lampung
sejak hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan sekadar menu yang datang, tetapi kehadiran rasa kepedulian dalam setiap porsi yang disajikan.
Program ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa. Anak-anak yang semula mungkin hanya membayangkan makanan hangat di jam istirahat, kini benar-benar menikmatinya dengan penuh kepuasan.
Raut ceria dan piring ompreng yang tersisa bersih menjadi pemandangan sehari-hari di ruang makan madrasah. Cita rasa yang disusun dengan penuh perhatian mampu membangkitkan selera makan mereka mengubah waktu istirahat menjadi momen yang dinanti-nanti.
Dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) sebagai garda terdepan program ini, terus bekerja dengan sepenuh hati. Berlokasi strategis di Jalan Baru, Desa Kurungan Nyawa, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, dapur ini tak hanya memproduksi ratusan porsi makanan, tetapi juga menghadirkan komitmen.
Setiap bahan dipilih, setiap rasa diuji, dan setiap gizi dihitung agar benar-benar memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak-anak penerima manfaat. Mereka memahami bahwa makanan sehat belum sempurna tanpa rasa yang disukai anak-anak.
Kepala Sekolah MI Diniyyah Putri Lampung, Melia Dewi Noviyanti, S.A.G., menyampaikan apresiasinya melalui konfirmasi via WhatsApp. Dalam pesannya yang hangat namun penuh harapan, ia berkata:
“Untuk menu hari ini, Alhamdulillah, dari segi rasa sudah terasa enak. Semoga ke depannya juga semakin membaik. Kami berharap ada keseriusan dalam mengatur menu dan pengolahannya. Karena sangat disayangkan bila menu MBG yang sampai di madrasah tidak diolah dengan baik dan cita rasa yang menggugah selera pada akhirnya tidak akan dimakan oleh anak-anak.”Katanya Kepsek MI
Pernyataan ini bukan sekadar kritik, melainkan bentuk cinta agar program ini berkelanjutan dengan kualitas terbaik. Sebab, apa artinya gizi sempurna jika hanya menjadi pajangan di piring?
Menanggapi harapan tersebut, Asisten Lapangan (Aslap) Arya dengan sigap memberikan respons positif. Ia memastikan bahwa pihak penyelenggara MBG tidak pernah berhenti mendengar dan belajar dari para penerima manfaat.
“Untuk ke depannya, insyaallah dari pihak MBG selalu ada evaluasi. Kami akan terus memberikan yang terbaik buat anak-anak,” ujar Arya dengan penuh ketulusan.
Arya juga menambahkan bahwa setiap masukan dari penerima manfaat menjadi dokumen berharga untuk meningkatkan kualitas layanan. Dari rasa, tekstur, variasi menu, hingga ketepatan waktu pengiriman semua terus dibenahi. Karena bagi mereka, senyum anak-anak saat menyantap makanan adalah laporan kinerja yang paling jujur.
Kehadiran MBG di lingkungan pesantren dan madrasah seperti Diniyyah Putri Lampung menjadi bukti bahwa program ini bergerak lebih dari sekadar angka dan porsi.
Ia bergerak di antara gelak tawa anak-anak, di antara doa kebaikan dari para guru, dan di antara kesungguhan para petugas dapur yang menyalakan kompor setiap pagi.
Ketika gizi ditemani rasa, dan rasa dikelola dengan cinta, maka terbangunlah generasi yang tak hanya kuat secara fisik, tetapi juga bahagia dalam proses belajarnya. Dan di Pesawaran, kebahagiaan itu dimulai dari piring makan siang mereka.(Ahy)