
Lampung Tengah (Lampung Explore.Com),– Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Wirakarya Kampung Payung Mulya, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, membuktikan bahwa Dana Desa dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha produktif. Dengan penyertaan modal sebesar Rp153 juta yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025, BUMKam Wirakarya mengembangkan unit usaha ternak burung puyuh petelur yang kini telah menghasilkan puluhan kilogram telur setiap harinya.
Usaha yang mulai dijalankan sejak Desember 2025 atau sekitar enam bulan lalu tersebut kini memelihara 4.000 ekor burung puyuh petelur yang ditempatkan di tiga lokasi kandang. Rinciannya, kandang pertama berisi 2.000 ekor, kandang kedua 1.000 ekor, dan kandang ketiga 1.000 ekor.
Dari ribuan ekor puyuh tersebut, BUMKam Wirakarya mampu memproduksi sekitar 35 kilogram telur puyuh per hari. Hasil produksi dijual kepada pengepul dengan harga Rp27.000 per kilogram, sedangkan untuk pembelian langsung oleh masyarakat dipasarkan dengan harga Rp30.000 per kilogram.
Ketua BUMKam Wirakarya, Diana, mengatakan bahwa pada awal perjalanan usaha, kondisi pemasaran berjalan sangat baik karena telah memiliki kerja sama dengan salah satu pihak yang secara rutin mengambil seluruh hasil produksi telur setiap hari.
“Usaha ternak puyuh petelur ini kami jalankan sejak Desember tahun lalu dengan modal dari Dana Desa sebesar Rp153 juta. Alhamdulillah pada awalnya usaha berjalan lancar karena sudah memiliki kontrak dengan salah satu mitra yang setiap hari menampung hasil produksi telur kami,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut berubah setelah kerja sama tersebut berakhir. Putusnya kontrak membuat pengelola mengalami kesulitan memasarkan hasil produksi sehingga pendapatan usaha ikut terdampak.
Di sisi lain, BUMKam juga dihadapkan pada kenaikan harga pakan ternak. Harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp380 ribu per karung kini naik menjadi sekitar Rp395 ribu. Kenaikan biaya produksi tersebut memaksa pengelola mencari alternatif pakan dengan harga lebih murah.
Sayangnya, penggunaan pakan berkualitas lebih rendah justru berdampak pada produktivitas ternak. Tingkat produksi telur yang sebelumnya mampu mencapai 90–95 persen mengalami penurunan menjadi sekitar 70–80 persen. Selain itu, angka kematian (mortalitas) burung puyuh juga meningkat.
“Kami mencoba menyiasati kenaikan harga pakan dengan menggunakan pakan yang lebih murah. Namun ternyata kualitas pakan sangat berpengaruh terhadap produksi telur maupun kesehatan ternak. Produksi menurun dan tingkat kematian puyuh juga meningkat,” jelas Diana yang di temui awak media dilokasi kandang nya pada Sabtu,11 Juli 2026.

Meski menghadapi berbagai tantangan, BUMKam Wirakarya tetap berkomitmen mempertahankan usaha tersebut sebagai salah satu sumber peningkatan ekonomi kampung. Diana berharap pemerintah kampung, pemerintah daerah, maupun berbagai pihak dapat membantu membuka akses pemasaran sehingga usaha yang telah dirintis tersebut dapat terus berkembang.
“Kami berharap pemerintah kampung maupun pemerintah daerah dapat membantu mempromosikan dan memasarkan produk telur puyuh kami. Potensi usaha ini sangat baik, hanya saja saat ini kami membutuhkan dukungan dalam hal pemasaran agar hasil produksi dapat terserap dengan baik,” katanya.
Selain berharap adanya dukungan pemerintah, BUMKam Wirakarya juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun pelaku usaha lainnya yang membutuhkan pasokan telur puyuh dalam jumlah besar.
“Bagi masyarakat maupun pengelola SPPG yang membutuhkan pasokan telur puyuh, kami siap menjalin kerja sama untuk memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan. Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi solusi bagi pemasaran hasil produksi sekaligus mendukung program pemenuhan gizi masyarakat,” tambah Diana.
Keberadaan unit usaha ternak puyuh petelur BUMKam Wirakarya menjadi salah satu contoh pemanfaatan Dana Desa yang diarahkan pada kegiatan produktif dan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan pemasaran yang lebih luas dan stabilitas biaya produksi, usaha ini diharapkan mampu berkembang menjadi salah satu sentra produksi telur puyuh di Kecamatan Pubian sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Kampung (PAK) serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. (An)