
Lampung,(LE)-Samar-samar kabut pagi di perairan Selat Sunda masih menyimpan rahasia pilu. Dunia pers nasional kembali berduka. Sebanyak lima insan jurnalistik beserta tiga awak speedboat dikabarkan hilang kontak ketika menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Selasa (8/9/2026). Hingga berita ini diturunkan, Tim SAR Gabungan masih terus bergerak tanpa lelah, menyisir hamparan biru yang kelam demi secercah harapan.
Operasi pencarian yang dilakukan secara terpadu ini mendapat pengawalan penuh dari Organisasi Profesi Pewarta Foto Indonesia (PFI). Solidaritas kemanusiaan pun menjalar, menyatukan rasa di antara rekan-rekan seprofesi dan masyarakat pesisir Banten serta Lampung.
Di tengah hiruk-pikuk kabar yang mengguncang ruang redaksi, Kgs. Dedi Miryanto, S.E., M.Si. (KDM), Pemerhati Media dan Sosial Kemasyarakatan Lampung Selatan, menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menyebut peristiwa ini sebagai ujian berat bagi etos jurnalistik sekaligus pengingat akan kerentanan hidup di garis depan peliputan.
“Kami mendoakan yang terbaik bagi seluruh insan pers dan kru kapal yang saat ini dalam proses pencarian. Semoga Allah SWT memberikan keselamatan, petunjuk, dan keajaiban bagi rekan-rekan kita yang sedang bertugas. Doa dan apresiasi setinggi-tingginya juga kami tujukan kepada seluruh Tim SAR Gabungan yang tidak kenal lelah menyisir perairan demi keselamatan korban,” ujar KDM dengan nada haru.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa setiap tetes peluh dan kerja keras seluruh unsur yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini adalah catatan amal mulia. “Apapun hasil akhir dari operasi pencarian, kita harus meyakini bahwa semua pihak telah bekerja maksimal. Keikhlasan dan upaya terbaik adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap profesi jurnalistik,” pungkasnya
Musibah ini bukan sekadar rentetan peristiwa, melainkan cermin bagi dunia pers untuk menoleh pada aspek yang kerap terabaikan: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Wartawan. KDM menegaskan bahwa peliputan di kawasan rawan bencana, gunung api aktif, hingga zona konflik menuntut standar operasional prosedur yang jauh lebih ketat.
Ia mengimbau seluruh perusahaan media, organisasi wartawan, dan jurnalis lapangan untuk menjadikan protokol keselamatan sebagai panglima. Beberapa pilar penting yang patut menjadi pedoman, antara lain:
· Analisis Risiko Menyeluruh — Menguji kelayakan armada, membaca dinamika cuaca, pemetaan medan secara cermat, serta menyiapkan skenario darurat sebelum keberangkatan.
· Perlengkapan Standar dan Alat Komunikasi Darurat — Penggunaan pelampung, helm pelindung, serta perangkat komunikasi tangguh yang mampu beroperasi dalam kondisi ekstrem.
· Pembekalan Keterampilan Bertahan Hidup — Perusahaan pers wajib menggelar pelatihan survival dan navigasi bencana secara berkala bagi awak liputan.
· Mengembalikan Esensi Utama Jurnalisme — Mengingat kembali adagium klasik yang tak pernah pudar: “Tidak ada berita yang seharga dengan nyawa.”
“Pekerjaan jurnalis adalah pilar informasi publik yang sangat mulia, namun keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh ditawar. Kita semua berharap seluruh tim jurnalis beserta kru kapal dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga,” tutup KDM dengan nada penuh pengharapan.
Hingga berita ini diterbitkan, proses evakuasi masih berlangsung. Seluruh elemen bangsa menanti kabar baik dari balik deru ombak Selat Sunda