
Pesawaran,(LE)-Memaafkan kesalahan orang lain tanpa menyimpan dendam merupakan salah satu sikap mulia yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan penuh makna tersebut disampaikan oleh Ust. Nazarudin, S.Pd., sebagai pengingat pentingnya menjaga hati, mempererat tali silaturahmi, dan membangun kehidupan yang damai serta harmonis.
Dalam pesannya, Ust. Nazarudin di ruang yang suci Masjid Al-Munawaroh Komplek Perguruan Diniyyah Putri Lampung ,Desa Negri ,Kecamatan Gedong Tataan Kab.Peswaran.Selasa,13/10/2026.
Menekankan bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Karena itu, setiap orang hendaknya belajar untuk menerima kekurangan sesama, melapangkan dada, dan tidak membiarkan rasa sakit hati berubah menjadi kebencian yang berkepanjangan.
Menurutnya, memaafkan bukan berarti membenarkan perbuatan yang salah, melainkan menunjukkan kebesaran hati untuk melepaskan beban kebencian dan dendam yang dapat merusak ketenangan jiwa.
“Jangan biarkan kesalahan orang lain membuat hati kita dipenuhi kebencian. Belajarlah memaafkan dengan tulus, karena hati yang bersih akan membawa ketenangan dalam menjalani kehidupan,” demikian pesan yang ditekankan dalam nasihat tersebut.
Ust. Nazarudin juga mengingatkan bahwa menyimpan dendam hanya akan memperpanjang rasa sakit dan menghambat seseorang untuk menjalani kehidupan dengan tenang. Sebaliknya, sikap memaafkan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan, memperkuat persaudaraan, dan menciptakan suasana yang lebih sejuk di tengah masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat, perkataan yang menyakitkan, maupun tindakan yang mengecewakan sering kali menjadi pemicu perselisihan. Namun, persoalan tersebut hendaknya disikapi dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan keinginan untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik.
Memaafkan juga membutuhkan keikhlasan dan proses. Tidak semua luka dapat pulih dalam waktu singkat, tetapi setiap orang dapat berusaha untuk tidak memelihara kebencian. Menjaga jarak dari perbuatan yang merugikan pun tetap diperbolehkan, tanpa harus menyimpan niat untuk membalas dendam.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari perkataan dan perbuatannya, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan amarah serta memperlakukan orang lain dengan penuh kebijaksanaan.
Melalui nasihat Ust. Nazarudin, S.Pd., diharapkan semakin memahami pentingnya membangun hati yang lapang, saling menghormati, dan membiasakan diri memaafkan kesalahan sesama.
Pada akhirnya, memaafkan adalah bentuk kekuatan hati, bukan tanda kelemahan. Sebab, ketika seseorang mampu melepaskan dendam, ia sedang membuka jalan menuju kedamaian, ketenteraman, dan kehidupan yang lebih baik.(Bung Atha)