
LAMPUNG TENGAH (Lampung Explore.Com) — Duka mendalam menyelimuti keluarga Reyhan Arisyah Putra, siswa kelas III SD Negeri 3 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah. Reyhan meninggal dunia setelah mengalami kejadian tersedak biji buah kelengkeng saat berada di lingkungan sekolah, Selasa pagi, 22 September 2026.
Peristiwa tersebut sontak membuat suasana sekolah berubah duka. Kejadian ini juga menjadi perhatian masyarakat lantaran buah kelengkeng yang dikonsumsi korban disebut merupakan bagian dari paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa dari SPPG Poncowarno 1.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa terjadi secara cepat saat aktivitas di sekolah berlangsung.
Kejadian Berlangsung Cepat
Pihak SPPG Poncowarno 1 membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurut pihak SPPG, informasi mengenai kejadian diterima setelah salah satu guru melaporkan bahwa terdapat seorang siswa yang mengalami tersedak.
Pihak SPPG menyebut kejadian tersebut berlangsung sangat cepat.
“Kejadiannya sangat cepat. Tahu tadi di sekolahan, siswa itu posisinya sedang belajar mengajar. Terus pagi itu makan MBG, tiba-tiba ada pihak guru yang melaporkan bahwasanya ada salah satu siswa tersedak,” demikian keterangan pihak SPPG.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, korban kemudian segera dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, korban kemudian dibawa dari Puskesmas menuju rumah sakit.
Pihak SPPG menyebut informasi awal yang diterima adalah korban mengalami tersedak akibat buah.
“Katanya tersedak karena buah. Dari BGN belum ada pemberitahuan masalah seperti buah yang dilarang,” ujar pihak SPPG.
Pihak SPPG menegaskan bahwa ke depan akan dilakukan koordinasi lebih lanjut dengan koordinator wilayah maupun pihak terkait untuk melakukan evaluasi terhadap jenis buah yang diberikan dalam paket makanan.
“Ke depannya mungkin kita koordinasi dengan Korcam, koordinator wilayah. Nanti bakal kita hindari,” kata pihak SPPG.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan program MBG, khususnya terkait pemilihan bahan pangan yang diberikan kepada anak-anak sekolah.
Keamanan Pangan MBG Jadi Perhatian
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, terutama karena penerima manfaat merupakan anak-anak yang membutuhkan perlindungan ekstra.
Karena itu, kejadian di SDN 3 Poncowarno perlu menjadi bahan evaluasi bersama, bukan semata-mata untuk mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan program berjalan aman.
Mulai dari pemilihan bahan makanan, pengolahan, pemeriksaan sebelum distribusi, pengiriman, penerimaan di sekolah, penyajian hingga pengawasan ketika makanan dikonsumsi siswa, seluruh tahapan memiliki arti penting.
Kepala Kampung: Ini Musibah, Tetapi Harus Jadi Bahan Koreksi
Kepala Kampung Poncowarno, Heri Eliyanto, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Reyhan Arisyah Putra yang merupakan warga kampung tersebut.
“Atas meninggalnya ananda Reyhan, kami mengucapkan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya,” ungkap Heri.
Menurutnya, sebagai manusia, peristiwa tersebut harus diterima sebagai bagian dari takdir Allah SWT. Namun, musibah tersebut tidak seharusnya hanya berlalu tanpa menjadi bahan evaluasi.
“Kalau saya pribadi, ini semua takdir dari Allah, garis hidup anak yang tidak bisa dihindari. Tapi besar harapan kami, kalau saya sendiri, untuk bahasa penutupan tidak sekejam itu, tetapi untuk pembenahanlah. Kita koreksi diri masing-masing,” ujarnya.
Heri menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk melakukan pembenahan agar hal serupa tidak kembali terjadi.
“Jangan anggap ini semata hanya musibah terus berlalu, takut kejadian lagi. Yang jelas kalau saya pribadi, kami tadi membawa, memberi semangat kepada dewan guru karena mereka merasa syok kehilangan semuanya,” katanya.
Ia juga mengaku memberikan perhatian kepada para guru di SDN 3 Poncowarno agar kejadian tersebut tidak menimbulkan tekanan psikologis yang justru mengganggu tugas utama mereka dalam mendidik para siswa.
Menurut Heri, para guru tidak boleh sampai merasa takut dan terbebani sehingga kehilangan semangat dalam menjalankan tugas mendidik anak bangsa.
“Saya takut dengan kejadian ini para dewan guru ketakutan, merasa bersalah, sehingga tugas beliau untuk mendidik anak bangsa itu menjadi hilang. Nasib anak kita ke depannya bagaimana kalau dewan guru sudah merasa tertekan dan merasa ketakutan?” tuturnya.
Karena itu, ia kembali menekankan pentingnya evaluasi dan pembenahan secara bersama-sama.
“Harapan kami, koreksi, berbenah yang lebih baik lagi ke depan,” tegasnya.
Dorong Sinergi dalam Pelaksanaan Program MBG
Heri juga berharap pelaksanaan program MBG di wilayahnya dapat berjalan dengan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, SPPG, sekolah, kader masyarakat dan seluruh unsur yang berkaitan dengan program tersebut.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyalahkan SPPG. Menurutnya, program pemenuhan gizi bagi masyarakat merupakan program pemerintah yang pada prinsipnya harus didukung selama dilaksanakan dengan baik dan benar.
“Saya mungkin mewakili nurani dari semua kepala kampung yang ada di kampung masing-masing. Intinya adalah besar harapan kami bisa sinergi. Kami tetap mendukung program pemerintah asal itu untuk garis yang benar, untuk benar-benar hadir untuk masyarakat kita, untuk gizi masyarakat,” ujarnya.
Namun, menurut Heri, masih diperlukan penguatan komunikasi dan koordinasi di tingkat lapangan.
“Selama ini yang saya rasakan, mungkin bukan saya sendiri ya, ini bukan saya menjelekkan SPPG, kayaknya kurang ada sinergi,” katanya.
Ia kemudian menyinggung pelaksanaan distribusi makanan untuk kelompok balita dan keterlibatan kader posyandu di wilayahnya yang menurutnya masih perlu diperjelas mekanismenya.
“Saya izin untuk balita kita dengan kader posyandu, kami bingung. Jadi tahu-tahu kader posyandu itu saya bingung apakah kader posyandu itu jadi distributor SPPG atau bagaimana. Kadang-kadang miris, dicantolkan di pintu rumah. Itu terjadi di tempat saya,” ungkapnya.
Menurut Heri, persoalan tersebut juga perlu dibicarakan bersama agar para kader di tingkat kampung tidak berada dalam posisi yang serba salah.
Ia menilai kader posyandu juga memiliki keterbatasan karena tugas tersebut merupakan bentuk pengabdian masyarakat.
“Saya bingung, saya mau marah dengan kader. Beliau dengan pengabdiannya hanya Rp50 ribu per bulan. Jadi maksud saya, kita benahi bersama-sama lebih baik lagi ke depan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
“Jaga Marwah Program Pemerintah”
Heri berharap seluruh pihak tidak saling menyalahkan, tetapi menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum untuk memperkuat sistem pengawasan dan koordinasi.
Menurutnya, program MBG merupakan program pemerintah yang harus dijaga pelaksanaannya agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita menjaga marwah Presiden karena ini program Presiden. Jangan sampai nanti jelek tertimpa pada Presiden semua,” ujarnya.
Ia berharap seluruh pihak dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan.
Sementara itu, pihak SPPG Poncowarno 1 juga menyatakan akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait mengenai jenis buah yang diberikan kepada siswa sebagai salah satu langkah evaluasi ke depan.(An)