
PESAWARAN ,LE– Seorang balita berusia 2,6 tahun asal Kabupaten Pesawaran, Lampung, saat ini harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek (RSAM) Bandarlampung akibat mengalami kondisi stunting atau kurang gizi akut.
Balita tersebut bernama Muhammad Aepudin bin Sukriyah, warga Desa Bayas Jaya, Kecamatan Way Khilau. Keluarga besar korban pun memohon doa dan dukungan dari masyarakat luas agar sang anak dapat segera pulih dan kembali sehat.
Selain meminta doa, keluarga juga berharap adanya perhatian dan bantuan nyata dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesawaran untuk proses kesembuhan anaknya. Kondisi ini kembali menyoroti tajamnya kesenjangan antara program pemerintah dan realita di lapangan.
Ketua Satuan Wilayah (Setwil) Forum Pemuda Islam Indonesia (FPII) Provinsi Lampung, Sufiyawan, turut menyoroti kasus ini. Ia mempertanyakan efektivitas dan keseriusan program pencegahan stunting yang selama ini digencarkan secara masif, mulai dari tingkat desa hingga pusat.
“Dengan kejadian ini, menjadi pertanyaan besar terkait pengawasan program stunting. Apakah hanya sekadar laporan tertulis dan seremonial rapat tahunan yang menghabiskan anggaran, sementara fakta di lapangan masih ada ditemukan keluarga dan anak yang mengalami kurang gizi?” ujar Sufiyawan, Minggu (14/9/2025).
Ia menegaskan bahwa pihak-pihak terkait, mulai dari Pemerintah Desa (Pemdes) Bayas Jaya, Kecamatan Way Khilau, Dinas Kesehatan, hingga Pemkab Pesawaran harus benar-benar hadir memberikan dukungan nyata, bukan sekadar janji.
“Saya meminta pemerintah benar-benar hadir memberikan support dan perawatan agar ananda Aepudin kembali sehat dan bisa pulang bersama keluarga,” pungkasnya tegas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemkab Pesawaran terkait temuan kasus stunting ini dan efektivitas program penanganannya. Kasus Muhammad Aepudin diharapkan menjadi pengingat keras bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi mendalam dan mengambil tindakan yang lebih konkret dalam memerangi stunting.(Ahy)